WAWANCARA Okky Madasari

”Saya percaya bahawa seharusnya ketika orang membaca karya sastera, dia justeru disedarkan ada persoalan yang selama ini ternyata tidak dia sedari.”

Okky Puspa Madasari atau lebih dikenali sebagai Okky Madasari merupakan seorang ibu, novelis Indonesia dan juga calon PHD di Universiti Kebangsaan Singapura. Sejak 2010, beliau telah menerbitkan 10 buah karya antaranya Entrok (2010), Maryam (2012), Pasung Jiwa (2013), Kerumunan Terakhir (2016) dan Mata di Tanah Melus (2018). Bukunya yang ke sepuluh iaitu tesis beliau bertajuk “Genealogi Sastra Indonesia: Kapitalisme, Islam dan Sastra Perlawanan” boleh di akses secara percuma di sini.

Wawancara Sasterawan Pilihan ini diselaraskan bersama W.N Khuzairey, Farahin W, Ruby Mas, Norashikin Ali Amat dan Nursyuhaidah A. Razak.

***

GERAK Malaysia: Novel pertama Mbak Okky berjudul Entrok boleh dikatakan amat tabu, bagaimana sastera Indonesia menerimanya? Dan adakah sastera Indonesia ini adalah sastera perlawanan atau lebih kepada sastera edukatif, seterusnya bagaimana Mbak Okky merungkai mitos dan tabu pada masyarakat Indonesia?

Okky Madasari: Novel pertama saya Entrok terbit pada tahun 2010 dan sejak itu memang penerimaan masyarakat cukup baik. Novel itu diapresiasi luas, dibaca luas, berkat novel itu saya bisa menjadi bagian dari sastera Indonesia. Artinya kan di sini, saya tidak ditolak, tidak dikesampingkan, tetapi diterima. Pertanyaannya kalau kita katakan tentang isu tabu, apakah kemudiannya ketika sesuatu novel mengangkat isu yang dianggap terkait seksualiti dengan kata ‘entrok’ yang di Malaysia disebut ‘coli’ dan sebagainya itu kemudian menimbulkan resistansi, di Indonesia saya bisa katakan bukan kerana unsur seksualitinya sekarang yang menjadi sensitif tetapi ketika sebuah karya sastera itu menyinggung Islam. Ketika sebuah karya sastera menyinggung kelompok Islam yang dominan itu menjadi lebih sensitif dalam masyarakat. Jadi untuk Entrok saya justeru tidak menghadapi resistansi yang berarti kecuali ketika dalam proses editing, editor saya meminta bagian di mana ada ulama’ yang berhubungan seksual tanpa menikah dengan seorang gadis. Nah di sini editor saya meminta agar itu diubah agar jangan making love but just flirting. Itu kerana editor saya dan penerbit saya takut menyentuh isu-isu Islam.

Jadi sejak pertama kali sebelum saya menerbitkan novel pertama dan masuk ke dunia sastera, saya sudah bertemu dengan realita bahawa yang ditakuti di era setelah ‘98 itu bukan urusan kritik pada pemerintah. Novel Entrok itu tidak hanya bicara tentang seksualiti sebenarnya dan judulnya ‘bra’ itu kerana menjadi pangkal cerita di mana tokoh utamanya kerana miskin dia tak mampu beli bra. Dan kerana itu dia mahu berjuang melawan kemiskinan, tetapi dia berhadapan dengan masalah lain iaitu sistem politik, masalah autoritarian, ketidakadilan ekonomi dan juga ketidakadilan dalam keyakinan. Nah novel Entrok yang sedemikian kritis pada tentera (militer), tidak ada masalah. Editor saya sama sekali tidak ada masalah. Penerbit saya yang merupakan penerbit terbesar di Indonesia iaitu Gramedia Pustaka Utama sama sekali tidak keberatan dengan segala hal yang sangat kritis terhadap militer, politik rezim, sama sekali tidak ada masalah kerana situasi memang sudah berubah. Jika novel Entrok terbit sebelum ‘98, novel itu tidak akan bisa keluar seperti itu. Atau novel itu published and then saya sebagai penulis dan editor saya bisa masuk penjara. Jadi ketika sebelum ‘98, yang ditakuti adalah isu militer, iaitu isu kritik terhadap rezim. Setelah ‘98, isu seperti itu sama sekali tidak ada masalah. Silakan, kita bisa mengkritik militer dan rezim, tetapi kita harus sangat berhati-hati ketika bersentuhan dengan Islam atau agamawan. Jadi pengalaman saya tentang editing Entrok, sekaligus meng’capture’ situasi sastera dan masyarakat, juga situasi peta kekuasaan Indonesia sekarang ini. Jadi bagaimana editor saya meminta yang di edit adalah bagian ‘ulama’ berhubungan seksual’ itu menunjukkan bagian itu yang dianggap sensitif bukan bagian lain. Jadi dari peristiwa itu saja sudah terlihat.

Lalu yang kedua berikutnya, situasi tentu berubah ketika saya menerbitkan novel Maryam yang mengangkat persoalan Ahmadiah, persoalan minoritas di Indonesia. Lalu saya menerbitkan Pasung Jiwa yang isunya mengenai kebebasan terhadap transgender tetapi di dalam novel itu saya menggambarkan ada kelompok Islam yang memang sebenarnya itu adalah metafora dari kelompok Islam yang wujud di Indonesia sekarang. Kelompok ini kecil saja jumlahnya tetapi sangat aktif melakukan demonstrasi, melarang dan membubarkan festival atau apa saja yang dianggap bertentangan dengan nilai Islami. Dengan begitu seolah-olah mereka merepresentasi Islam sedangkan tidak. Nah di situ kemudian saya gambarkan kelompok ini di dalam Pasung Jiwa, tetapi dua minggu setelah novel ini diterbitkan, penerbit saya menarik balik terbitannya. Padahal kalau buku sudah terbit kamu bisa bayangkan berapa banyak wang yang sudah dilaburkan, mereka memilih untuk mengorbankan wang itu kerana mereka takut. Mereka memilih untuk merugi, nggak apa-apa, yang penting kita aman. Nah buku itu ditarik lalu mereka minta ke saya untuk disunting bagian-bagian tertentu.

Nah ini juga menunjukkan situasi betapa ada yang menghantui bahkan belum ada peristiwa yang terjadi dengan buku saya tetapi mereka sudah menarik balik kerana mereka sudah lebih dulu takut. Tetapi ketakutan itu juga tidak datang dengan sendirinya kerana memang ada pengalaman panjang. Ada beberapa peristiwa di mana penerbit saya menerbitkan buku yang dianggap menghina Nabi atau Islam lalu kemudian kelompok itu datang, meminta agar buku-buku itu dibakar dan sebagainya.

Nah jadi apa yang saya jelaskan itu bisa menggambarkan situasi sekarang. Lalu pertanyaannya bagaimana dengan sastera perlawanan. Itu sebenarnya term yang secara sedar saya gunakan dalam buku saya yang bisa di download gratis di website saya. Di sini saya bicarakan sastera perlawanan tidak harus buku yang melawan isu politik atau bernuansa kiri, ataupun ‘melawan’ di dalam konteks harus ada aktivisme, tidak. Itu sudah jelas. Tetapi juga buku apapun yang selalu questioning dan menawarkan alternatif dari yang dominan, jadi saya masukkan itu dalam definisi perlawanan. Misalnya begini, ketika trend cerita cinta itu selalu yang romantik dengan imaginasi perkahwinan yang ideal, kemudian ada cerita yang mengangkat isu keluarga tetapi dengan narasi yang berbeda dan alternatif maka yang seperti itu juga saya masukkan dalam sastera perlawanan.

Jadi sastera perlawanan di sini adalah karya sastera yang cuba menghadirkan suara alternatif, yang berbeda, yang mahu mencuba melawan dominasi narasi dari sastera yang arus utama. Jadi apapun itu… nah, tentu saja banyak, sekarang kita lihat banyak kemunculan penulis-penulis yang selalu mencuba menghadirkan narasi baru. Tetapi juga kemudian pasti akan ada mereka yang berada di arus utama yang selalu mengikuti pola-pola di mana konsumerisme dan kapitalisme itu menjadi framework dan bayangan ideal, itu tetap dominan dalam sastera Indonesia hari ini. Jadi kita bicara tentang romance yang mengangkat backgroundnya di Egypt, Paris, Seoul atau Tokyo, itu kan bagian dari imaginasi penulis yang memang dibentuk oleh kapitalisme dan konsumerisme. Nah itu tetap ada. Tetapi kemudian akan selalu ada suara-suara yang cuba memberikan alternatif yang berbeda.

GERAK Malaysia: Apakah kecenderungan penulis-penulis muda Indonesia pada abad ke 21, adakah mereka masih terikat dengan polemik seni untuk seni atau seni untuk masyarakat? Ataupun sudah mempunyai gelanggang yang baru?

Okky Madasari: Saya orang yang tidak sepakat lagi pada dikotomi seni untuk seni atau seni untuk rakyat kerana menurut saya itu terjadi dulu. Ketika kita bicara sekarang, setiap hal itu pasti intertwined. Ketika kita mahu berkarya, pasti ada sesuatu yang ingin kita sampaikan. Ada mesej yang mahu kita sampaikan. Tetapi karya sastera pada prinsipnya adalah karya seni. Sehingga dalam menyampaikan itu, kita tetap butuh estetika dong. Kita tetap butuh seni. Kita tetap butuh menyampaikannya semenarik mungkin, seimpresif mungkin, sebagus mungkin, sehingga pesan yang ingin kita sampaikan itu bisa diterima oleh pembaca, bisa mempengaruhi pembaca, bisa menarik buat pembaca. Kerana kalau tidak begitu, akan percuma kita. Sepenting apapun mesej yang mahu kita sampaikan, sepenting apapun gagasan yang mahu kita sampaikan tetapi kalau kita tak bisa menemukan sebuah format, kita tak bisa menemukan cara menulis yang baik, kita tidak memiliki art, kita tidak memiliki citarasa seni, kita tidak memiliki estetika, tulisan kita tidak akan ada artinya. Orang tidak akan bisa menelan itu.

Nah, di sisi yang berbeda definisi keindahan itu juga sesuatu yang relatif. Ketika kita membaca karya-karya yang menyuarakan keadilan, perjuangan melawan ketidakadilan, perjuangan melawan kemiskinan, dalam narasi seperti itu ada keindahan yang juga bisa kita rasakan. Ada rasa getaran-getaran yang bisa kita dapatkan ketika kita membaca sebuah karya-karya yang mengangkat persoalan-persoalan dalam masyarakat kita.

Nah, jadi yang ingin saya sampaikan di masa sekarang ini tidak seharusnya kita memisahkan seni untuk seni dan seni untuk rakyat, tidak. Tetapi tentangan semua penulis hari ini adalah bagaimana kita bisa menghadirkan karya-karya yang menggugah kesedaran, yang menyuarakan persoalan kemanusiaan, tetapi dengan tetap menghadirkannya dalam citarasa kesenian sehingga pembaca akan bisa kita rebut kesedarannya, kita bentuk sudut pandangnya. Kerana kan sekarang ini kita harus bertempur dengan pelbagai medium lain, kita bertempur dengan karya visual, kita bertempur dengan internet, kita melawan sosial media, kalau kita tidak bisa menghasilkan karya yang bisa menggugah tetapi sekaligus bisa dinikmati, maka kita gak bisa memenangkan medan pertarungan itu.

GERAK Malaysia: Jadi sepatutnya tidak ada pemisahan antara seni untuk seni atau seni untuk rakyat. Pada pandangan Mbak Okky, adakah kemanusiaan masih menjadi tema penulis-penulis muda Indonesia atau mereka cenderung menulis apa saja yang tidak menggugah kesedaran?

Okky Madasari: Iya, kalau di Indonesia seperti yang tadi saya bilang mereka yang menulis dengan hanya untuk membangun atau memenuhi imaginasi yang berlandaskan konsumerisme, kapitalisme, masih tetap ada. Masih bisa dikatakan itu arus utama. Makanya itu kemudian akan lahir kisah-kisah cinta yang tadi kita bilang. Tetapi ada juga penulis-penulis muda yang memberikan wacana-wacana baru yang membawa isu-isu kemanusiaan dengan gaya-gaya khas mereka. Di sisi lain, ada juga penulis-penulis muda yang hanya mahu menggunakan sastera sebagai medium dakwah. Hanya mahu bicara Islam tetapi Islamnya dipersempit. Bukan bicara Islam sebagai agama yang membawa misi kemanusiaan, tetapi yang difikirkan hanya bagaimana citra tokoh yang selalu mengucapkan kata-kata dalam bahasa Arab, selalu digambarkan mungkin berpakaian Islami, tetapi isu yang dihadirkan tidak mengangkat persoalan dalam masyarakat. Karya-karya ini justeru membawa pembaca jauh dari persoalan real dalam masyarakat, dan hanya sibuk mengulas sisi-sisi normatif dalam agama dan menjadikan agama itu sesuatu yang sifatnya artificial saja, performatif saja, hanya sifatnya penampilan, dan hanya sifatnya selalu isu domestik lalu hujungnya sebenarnya karya Islami seperti ini tidak berbeda dengan karya romance yang tadi kita bilang. Hanya sekadar persoalan cinta romantik saja.

Nah, jadi ini masih relevan dengan apa yang saya tulis di buku Kapitalisme, Islam dan Sastera Perlawanan. Tiga cabang ini selalu ada dari dulu kala sampai hari ini. Jadi ketika saya bicarakan tentang penulis muda, masih tiga ini yang ada. Bukan hanya satu, dua atau salah satu saja tetapi tiga-tiganya ini. Nah mana yang lebih dominan, tentu kita bisa lihat dong misalnya sesuatu tetap bisa menyenangkan orang, orang selalu mahu terbuai kerana disodori cerita-cerita yang menawarkan mimpi, sastera menjadi eskapisme, sastera menjadi sesuatu yang dibaca kemudian lupa pada realiti. Padahal kalau saya, saya percaya bahawa seharusnya ketika orang membaca karya sastera, dia justeru disedarkan ada persoalan yang selama ini ternyata tidak dia sedari. Dia justeru terusik batinnya, menjadi gelisah, dia justeru diingatkan. Nah kalau dalam bahasa saya sejak awal saya percaya bahawa saya menulis sastera bukan sebagai bacaan pengantar tidur, justeru setelah membaca karya-karya saya, pembaca-pembaca saya akan sulit tidur. Nah itu seharusnya. Tetapi kita tidak bisa membantah bahawa ketiga-tiganya ada dalam wacana sastera Indonesia.

GERAK Malaysia: Ada gagasan keramat dari Pak Seno Gumira Ajidarma – ketika jurnalisme dibungkam, sastera harus berbicara – menurut Mbak Okky sendiri sebagai sasterawan perempuan, apa yang sastera seharusnya berbicara dan bagaimana?

Okky Madasari: Ini menyambung dengan pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, jadi di sini keterlibatan seorang sasterawan untuk turut bersuara dan menyuarakan ketidakadilan dalam masyarakat, untuk turut membangun kemanusiaan itu seharusnya dilakukan baik sasterawan laki-laki atau perempuan. Nah kalau pertanyaan spesifik soal sasterawan perempuan, kita bisa lihat ini bukan persoalan sasterawan saja. Tetapi kita bisa lihat persoalan perempuan di dunia kita hari ini masih menghadapi banyak tentangan. Kita masih bisa melihat bagaimana perempuan sepanjang sejarah dalam pelbagai bidang itu masih selalu terpinggirkan, ini bukan kerana perempuan yang tidak mampu tetapi kan memang ada sejarah panjang yang membuat perempuan kemudian aksesnya tidak sebesar laki-laki, kesempatannya tidak sebesar laki-laki. Nah dalam dunia sastera, kita bisa melihat seolah-olah perempuan banyak tapi kalau dilihat lagi, ternyata lebih dominan laki-laki. Kenapanya, itu juga mungkin kerana faktanya secara jumlah masih kurang atau mungkin juga kerana tradisi autoritas sastera, gatekeepernya masih selalu dipegang laki-laki. Jadi itu menjadi tentangan.

Tetapi terlepas dari itu, saya sendiri lebih mahu bicara soal isi. Tentangan kita adalah bagaimana kita menghasilkan kalau kita bicara isu perempuan, menghasilkan karya sastera yang memang betul-betul turut menyuarakan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan, yang turut memberikan narasi alternatif sehingga perempuan itu tidak hanya terus menjadi atau digambarkan dalam imaginasi yang dibentuk oleh patriarki bahawa perempuan itu lemah, domestifikasi, atau mahu dipoligami kalau dalam karya-karya Islami kontemporer, nah itu tugas dari kita semua untuk menghadirkan narasi-narasi tentang perempuan yang melawan narasi dominan arus utama. Itu tidak hanya jadi tugas perempuan, tetapi juga menjadi tugas laki-laki.

Bahkan saya bisa mengatakan tidak cukup hanya dengan perempuan yang menulis, maksudnya ketika kita bicarakan sastera yang menyuarakan kesetaraan laki-laki dan perempuan yang memiliki sudut pandang feminis, bukan bererti sebuah karya yang ditulis perempuan maka dia akan memenuhi hal itu. Tidak.

Kita bisa baca banyak karya yang ditulis perempuan tetapi ternyata di situ cuma menggambarkan perempuan sebagai korban konsumerisme, perempuannya hanya sibuk belanja ke mall beli barang-barang mewah, perempuannya hanya menjadi korban dari relasi percintaan. Itu bisa ditulis perempuan dan banyak sekali. Banyak sekali karya yang ditulis perempuan tetapi dia tidak memberi narasi baru yang bisa membangun kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, yang bisa menghasilkan citra perempuan yang baru sesuai dengan prinsip-prinsip kesetaraan dan keadilan, tetapi justeru semakin melestarikan imaginasi yang dibentuk oleh patriarki, gap dan ketidakadilan antara laki-laki dan perempuan. Jadi yang penting adalah bukan lagi laki-laki dan perempuannya, tetapi bagaimana kita menghadirkan narasi yang membawa keadilan pada perempuan.

Ketika menulis isu perempuan, sebenarnya perempuan yang punya privilege untuk bisa menghasilkan cerita yang lebih nyata, lebih dekat, lebih mempengaruhi pembaca… kerana apa? Kerana perempuan sendiri yang mengalaminya, laki-laki tak bisa mengalami. Nah jadi di sini, posisi penulis laki-laki dan perempuan sama-sama diadu untuk menghasilkan narasi yang sebagus mungkin. Kalau permasalahannya dengan penulis perempuan, kenapa misalnya jumlah penulis perempuan masih terbatas mungkin kerana mereka tidak punya keluasaan untuk menulis, banyak sebabnya. Antara sebabnya mereka sibuk dengan hal-hal yang memang secara kultural dibentuk sebagai urusan perempuan.

Tetapi kalau kita cuba melihat dengan lebih mendalam, saya punya dugaan dan ini bukan pertama kali saya sampaikan, perempuan tidak dibiasakan untuk mengekspresikan persoalannya pada khalayak. Di sini kan kemudian kita melihat, menulis itu kan berkomunikasi ke banyak orang. Dan perempuan tidak dibiasakan untuk melakukan itu, untuk mengkomunikasikan persoalan perasaan dan fikiran ke banyak orang. Dan ini terkait dengan kultural juga. Ini yang harus pelan-pelan kita lawan. Tetapi sebenarnya perempuan itu memiliki modal yang lebih baik dan lebih kuat kalau mahu menulis isu perempuan kerana kita mengalami sendiri. Jadi kita punya sesuatu yang tidak dipunya laki-laki sehingga harapannya ketika sebuah cerita tentang perempuan ditulis oleh perempuan tentu akan menghasilkan cerita yang lebih mendobrak, lebih menggetarkan, lebih berpengaruh. Nah ini makanya call for all woman around the world to start writing.

Disediakan oleh: Nursyuhaidah A. Razak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: